Langsung ke konten utama

Bukan Mode Penikmat Senja

    Kebanyakan orang bangga meng-tagline dirinya sebagai 'Penikmat Senja'. But, why do you not try to call yourself as a 'process lover'. That's right! Sebagai 'Penikmat Proses'! Tidak ada unsur judgement dalam wacana ini, semua orang memiliki hak untuk memutuskan pilihannya. It's okay menjadi penikmat senja, sebagai bentuk tadabbur kita pada ciptaan sang pencipta bukan? Tapi, tidak kah kita ingin mengenal lebih dekat dengan 'proses' agar semakin lekat dan akrab?

    Berbicara mengenai proses, aku ingin sedikit berbagi cerita tentang catatan langkahku. Harapannya bisa membersamai kepiluhan teman-teman semua saat sedang bertumbuh dan berkeinginan.
Terkait ingin, wajar-wajar saja sebagai manusia kita serakah akan kata ingin. Tapi apakah kita mengimbanginya dengan ambisi upaya untuk menjadikannya nyata. Biarlah nalar kita yang berusaha menemukan jawabannya.

    Saat ini aku sedang mencari sebenar-benarnya makna dari umur ke 18 tahun. Aku mengamati berbagai macam bentuk penyikapan teman-teman sebayaku dalam menjalani hari-harinya di umur yang terbilang sudah cukup dewasa ini. Ada yang masih beradu nasib dengan lembar soal SBMPTN, ada yang sedang berusaha memenuhi kebutuhannya dengan bekerja serabutan, ada yang sibuk dan fokus berkarya melalui media digital hingga masih juga ada yang menikmati fase-fase rebahan dan fokus sekali berpikir. Ya, berpikir karena bingung hendak melakukan apa. Mungkin aku juga termasuk dalam kategori point terakhir. Namun sebelum hal itu menjadi kecenderungan, aku bertekad untuk menetralisir kebingunganku. Dan melalui cuplikan cerita inilah aku memulai semuanya..

...

    Sudah lama sekali aku berkeinginan untuk membeli sebuah kamera mirrorless. Harganya tentu tidak murah, kurang lebih sekitar 8 juta. Suatu ketidakmungkinan untuk aku bisa menjadi pemilik barang mahal itu. Apalagi uang bulanan yang dijata oleh orang tua juga terbilang minim. Tapi aku tak pernah berkeinginan untuk membatasi 'pikiranku' sendiri bahwa itu adalah 'hal yang mustahil'. Walaupun kelihatannya tidak akan mungkin terjadi dan andai terjadi pasti butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkannya. Aku mulai memutuskan untuk menabung dan mencari cara agar aku bisa mengembangkan uangku. Tiga tahun terakhir ini selama aku duduk di bangku SMA, tak henti-hentinya aku mencari cara agar segera merealisasikan segala target yang sudah aku tetapkan. 
Mulai dari meminimalisir pengeluaran uang saku untuk kebutuhan jajan, mempertimbangkan barang apa yang lebih dulu harus di beli atau di prioritaskan, hingga menahan keinginan untuk berperilaku hedon di tengah gempuran teman-teman yang sedang asyik mengikuti trend. 




    Aku juga memulai bisnis online shop kecil-kecilan. Menawarkan produk apa yang sekiranya dibutuhkan oleh teman-teman sebayaku. Prinsipku saat itu adalah ketika orang lain sedang 'menggunakan' aku harus menjadi pemasok yang 'menciptakan' atau 'menyediakan'. Selain itu aku juga memanfaatkan hobiku yang gemar mendesain visual. Beberapa orang mengorder pesanan editing yang menurutku upahnya juga lumayan untuk di masukkan ke tabungan. 
Lembur menyelesaikan orderan desain produk


    Usaha ini selalu aku upayakan, hingga akhirnya uang yang aku targetkan untuk membeli kamera mirrorless bisa tercapai. It's very proud when I can buy something by my ownself! Benar-benar pure tanpa sentuhan uang orang tua. 
Pemenuhan uang terkahir untuk beli kamera. Hasil upah desain


    Kadang aku agak tersinggung sih, kalau ada aja orang yang ngira bahwa enak sekali hidupku karena apa-apa serba dituruti. Excusme, ketika kalian sibuk nyari hp yang kameranya bening, fiturnya lengkap abiss, aku masih bergeming dengan hp kentang yang dikit-dikit minta dibersihkan dulu internal memory-nya kalau mau nonton status whatsapp. Ya, sudah jelas sekali semua keinginan butuh pengorbanan dan perjuangan sob :)

Potret di Camera Store :)

    Kesimpulannya, If there is a will there is a way! Jika ada kemauan pasti Allah kasih jalan kok :) And don't forget to always enjoy the process! Libatkan Allah jugaa yaa di setiap prosesnya, jangan lupa!

    Oh ya terakhir nih. Pernah suatu waktu aku bener-bener lagi stuck gitu, bingung karena omset penjualan produk onlineshop aku lagi menurun. Sepi orderan sederhananya. Nggak sengaja waktu aku lagi scroll instagram ada rekomendasi untuk membaca surat Al-Waqi'ah sebagai solusi agar dilancarkan rezekinya. Seketika ada dorongan untuk melakukan hal itu. Setelah sholat isya dan esoknya setelah sholat shubuh aku mencoba membaca surat Al-Waqiah. Dan masyaallah temen-temen, 2 jam kemudian Allah ngasih jalan rezeki melalui orderan desain sebanyak kurang lebih 40 project orderan. So, I'm grateful for this god miracle :)

Komentar